26 June 2017

Posted by ashari on July 14, 2014

Sulbarnews.com--Sebagai putra daerah, yang lahir dan besar di Kampung halaman, Mamuju, Sulawsi Barat, hingga kini saya sebetulnya masih sangat malu, karena belum dapat memberikan yang terbaik untuk tanah kelahiran, Bumi Manakarra tercinta. Belum ada prestasi, sebab saya bukan birokrat, bukan anggota DPRD atau pemegang kebijakan di daerah ini. Saya hanyalah seorang anak muda yang sedang belajar menjadi jurnalist atau penulis yang baik untuk daerah.

Namun, saya selalu teringat sebuah ungkapan, “Persembahkanlah karyamu untuk daerahmu”. Kalimat ini sedikit menyuntik motivasi saya selaku salah satu dari sekian banyak anak muda yang seringkali tampil dan berkeinginan untuk menjadi penulis, paling tidak penulis lokal di daerah sendiri.

Oleh sebab itu, karena hari ini adalah hari jadi Mamuju ke 474, maka penulis mengajak semua pembaca untuk sedikit menyimak tulisan pendek, “Ensiklopedia Sultan Mamuju” sebagai persembahan yang mungkin bisa berarti untuk kita semua, baik penduduk lokal maupun pendatang di tanah Malaqbi’ ini.

Bagi penulis, meskipun referensinya masih sangat sedikit, tapi ini menarik, agar sedikit menjadi referensi bagi semua pembaca dalam rangka mengetahui persoalan ke-Maradika-an dan tokoh Mamuju pada masa lampau. Untungnya, saya juga dapat menemui narasumber yang kapabel dan memiliki kemampuan untuk memberikan gambaran yang diharapkan oleh penulis.

Pembaca yang tercinta, kita harus mengakui, sebetulnya, pengetahuan kita tentang sejarah daerah ini masih sangat sedikit. Kalau bukan karena teman-teman jurnalist dan salah satu media online Sulbarnews.com, maka kami yang berada di belakang mediapun mungkin bakal tak tahu tentang sekelumit sejarah, sepertii yang diceritakan oleh H. Abdul Rasyid Kampil. Potongan sejarah yang dimaksud adalah bahwa Sultan H. Andi Djalaluddin Ammana Indah adalah pengibar sang saka merah putih pertama di lapangan karebosi Makassar, Sulaesi Selatan, di masa ketika penjajah asing masih berkelebat di bumi Nusantara ini.

Sejarah Mamuju terbentang luas ilmunya dan sungguh indah: Mendengar kelong-kelongnya (Bahasa Mamuju), kata-kata dalam syairnya, liukan cerita ke ceritanya dari zaman ke zaman, hingga alunan suara dari penutur aslinya yang mengundang decak kagum yang begitu besar. Jika saja media online Sulbarnews.com memiliki tempat untuk menyelipkan pita rekaman, maka suara H. Abdul Rasyid Kampil akan membuat pembaca yang tercinta dapat terpesona dengan suara syahdunya yang khas, saat tokoh ini menyanyikan lagu “Manakarra Pa’juluanta”, yang diiringi petikan gitar kesayangannya.

Sayang sekali, karena lantunan suara merdu itu, hanya penulis yang bisa menikmati suguhan di penghujung obrolan penulis (Ashari Rauf), saat bertandang ke kediaman Abdul Rasyid Kampil beberapa hari sebelum diperingatinya hari jadi Mamuju ke 474 ini, untuk keperluan pendalaman beberapa tonggak sejarah kabupaten Mamuju.

‘Tugas penulis’ kemudian adalah menyambungkan kepada pembaca tentang makna dan kandungan sejarah Mamuju, sebab penulis tidak mampu memperdengarkan suara berserak yang mengalun dari sang kakek pemiliki delapan cucu ini. Salah satu isi perbincangan penulis dengan dengan mantan kepala kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mamuju ini adalah seputar sepotong kisah tentang Raja Mamuju yang terakhir, yakni, Sultan H. Djalaluddin Ammana Indah.

Menarik, sebab, sebelum mozaik tokoh itu dibuka, terlebih dahulu ia mulai dengan kritik, “Saya tidak faham ini ananda, mengapa ada jalan Andi Dai. Di Mamuju, itu tidak dikenal siapa itu Andi Dai. Tapi, mungkin yang dimaksud adalah Sultan H. Djalaluddin Ammana Indah. Kalau itu yang dimaksud, yah, seharusnya nama itu yang diletakkan di salah satu jalan dalam kota Mamuju ini,” begitu kata si kakek kelahiran Padang, Mamuju 1 Oktober 1945 ini, mengritik.

Abdul Rasyid Kampil tergugah ketika diundang sekali seminar merajut pendapat dalam rencana pemberian nama Bandara Tampa Padang dan Pelabuhan Belang-belang, Mamuju, Sulawesi Barat. Ia Walk-Out (Meninggalkan ruang seminar) saat itu. Dan, ketika Media Online Sulbarnews.com ini menemuinya, dua hal pun diungkapkan. “Saya heran, mengapa warga Mamuju justeru tidak menawarkan dan mengusulkan nama tokoh pejuang yang pernah berbakti di daerah ini untuk diletakkan namanya pada nama formal Bandara ataupun Pelabuhan. Itulah yang membuat saya berang dan keluar dari forum diskusi saat seminar itu,” katanya serius, tapi tak marah.

Nama yang tersimpan di benaknya, yang kemudian kepada penulis, dengan sekaligus membuka ensiklopedia sejarah Mamuju. “Atas dasar apa kita meragukan Kondo Bulo, Lasalaga dan Sultan H. Djalaluddin Ammana Indah. Ke tiganya adalah tokoh pejuang yang berjasa bagi Republik ini,” ucapnya.

Dijelaskan juga, bahwa Kondo Bulo atau sebutan lainnya Punggawa Malolo, sangat gigih mengusir penjajah Belanda dari daratan Mamuju. “Mungkin jarang orang tahu Ananda, bahwa kegigihan seorang Punggawa Malolo di daerah kita pada masa lampau itu berhasil mengusir penjajah Belanda,” sebutnya.

Cerita sosok seniman dan budayawan Mamuju ini, melanjutkan kisah dan cerita tokoh-tokoh terdahulu, bahwa konon, salah seorang Opsir belanda yang bernama Dc Boerman tertelungkup ke tanah dan meninggal dunia, persis di wilayah Sinyo-nyoi, Kalukku, saat ini.

Pejuang Mamuju tempo dulu itu sudah lama wafat, dan disemayamkan di tanete Kassa', Kalukku, Mamuju, Sulawesi Barat. Tokoh lainnya, bernama Lasalaga. Nama tokoh inilah yang mempertemukan kerajaan Mamuju dan kerajaan Badung Bali. Lasalaga lahir dari pertemuan dan perkawinan Pattolabali, pewaris ke Hadatan Kurri-kurri dengan sang Maha Dewi, Puteri Raja Badung, Bali. Dan momentum itulah sehingga Mamuju mulai dikenal dengan dunia luar. Hal itu dibuktikan dengan ramainya aktifitas pelayaran di pelabuhan Kurri-kurri, kini dikenal sebagai pelabuhan Veri Mamuju.

Nama tokoh berikutnya yang pesohor di Mamuju bahkan di tanah Malaqbi ini, adalah H. Sultan Djalaluddin Ammana Indah. Kepahlawanan dan patriotisme yang ditunjukkan ‘Sultan Mandar Mamuju’ ini bisa diketahui dalam sejarah yang menyebutkan bahwa Sultan inilah yang kali pertama mengibarkan sang saka merah putih di lapangan Karebosi Makassar, Sulawesi Selatan. “Tak ada yang dapat meragukan fakta itu ananda,” tegas Rasyid Kampil.

Bahkan, kata Rasyid, gelar Sultan yang diperolehnya bukan hanya dicatut begitu saja atau seadanya, tapi gelar Sultan itu diberikan langsung oleh pemerintah kerajaan Arab saudi. “Tidak sembarang orang digelari Sultan. Andi Djalaluddin Ammana Indah sangat istimewa di mata pemerintahan kerajaan Arab saudi. Dan, di daerah ini, beliau semestinya pahlawan yang harus dihargai oleh generasi saat ini,” begitu kelanjutan si pemilik sejarah mamuju yang dalam ini, disampaikan dengan tutur sapa yang khas.

Saat penulis bertanya, mengapa nama besar Sultan seolah ditelan oleh zaman yang baru ini? Ilmuan sejarah dan kesusastraan Mamuju ini bilang, “Di Mamuju ini banyak yang tahu peran besar beliau, termasuk anak-anak dan kerabat keluarga beliau, tapi tak mau mengeluk-elukkan namanya, sebabdikhawatirkan justeru amal dan kebaikan beliau bisa ternoda. Biarlah nama besarnya tertelan oleh sejarah: Jika tangan kanan memberi, janganlah tangan kiri menuntut”.

Inilah, buah yang penulis peroleh, berkat sabar berkelana untuk penelusuran bahan tulisan tentang Makna Hari Jadi Mamuju. Dua manka yang berbeda, tetapi memberi spirit satu sama lain. “Mamuju dan Manakarra tak bisa dipisahkan satu sama lain,” kata Abdul Rasyid Kampil.

AR

Categories: 

Comments

Kalo boleh tahu yanv mnulis berita ini..sya butuh beberapa info tentang kondo bulo.... dan informasi bahwasanya punggawa malolo memiliki nama kondo bulo berasal dri mana...

Add new comment

CAPTCHA
Pertanyaan ini untuk menguji apakah Anda adalah pengunjung manusia dan untuk mencegah kiriman spam otomatis.
Image CAPTCHA
Enter the characters shown in the image.

News Stories

Polewali. (Sulbarnews.com) Setelah...
Pengamanan PILGUB SULBAR 2017 Mamuju...

PT Sulbarnews dan Tabloid

Untuk Pemasangan Iklan Banner. Telp : 2325139 - SMS : 081398181002. email : info@sulbarnews.com

left