26 June 2017

Posted by ashari on August 07, 2014

Sulbarnews.com--Sebulan telah berlalu. Pasca Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 9 Juli 2014, saya pribadi belum bisa kembali menonton televisi seperti sebelumnya. Padahal, mungkin penulis termasuk salah satu pengamat, atau analis konten televisi selama sekian tahun. Hingga penulis bisa menilai pada hitungan 5 menit pertama, apakah sebuah program televisi layak ditonton, atau harus pindah kanal.

Penulis juga sangat menyukai semua program berita di televisi. Bahkan di radio FM dimana pun. Jangan bertanya, berapa banyak situs online yang penulis baca beritanya saban hari. Penulis memiliki tablet pintar yang mendukung aktivitas itu dalam setiap kesempatan, hingga tak melewatkan portal apapun yang menarik dibaca.

Khususnya televisi, dalam dua bulan terakhir, kebiasaan itu sedikit bergeser. Dari asyiknya berita televisi ke program lawak ala Cak Lontong dan kawan-kawan, atau Kisah Sembilan Wali saat Ramadan 1435 Hijriah. Itu cara penulis menyikapi konten televisi, khususnya Metro TV dan TV One yang bukan rahasia lagi menjadi seteru hingga saat ini. Keberpihakan media terhadap kandidat atau kubu tertentu, sesungguhnya tidak haram. Asal kontennya tetap akurat, seimbang dan bebas dari prasangka buruk.

Tetapi penulis menilainya telah berkembang sedemikian rupa. Pandangan ini boleh saja ditentang pihak lain, tetapi penulis membangun asumsi setelah membaca, menelaah, dan membanding belasan situs online, juga versi cetak setiap hari lalu menyimak muatan tivi. Khusus surat kabar, sedikitnya penulis mengunyah 4-5 media koran setiap hari. Teknik membacanya tentu memakai pola scaning atau membaca cepat, sehingga bisa melewati banyak judul dan tema beragam yang menyembul. Penulis kerap membahas cara itu dalam Mata Kuliah Membaca di kampus.

Kecenderungan ini juga mungkin merayapi orang lain. Sehingga banyak yang kemudian jengah menonton kualitas pemberitaan di televisi berita akhir-akhir ini. Hal itu tidak menjadi soal bagi mereka yang fanatik pada televisi tertentu karena dukungannya secara tidak langsung pada kandidat capres dan cawapres.

Fenomenanya cukup telanjang, meski itu asumsi penulis, tetapi kecenderungan menonton tivi beberapa bulan ini sangat dipengaruhi sikap politik pemilih di pemilu. Penulis mengobservasi penonton televisi di banyak tempat.

Penulis berharap, seluruh dinamika dan persinggungan akibat media yang membelah kepercayaan publik segera usai. Dan, itu menjadi tanggung jawab seluruh neswroom yang mengelola isu dan wacana pilpres untuk mengembalikan trust publik terhadap tugas mulia yang diemban media, terlebih para wartawan. (*)

Oleh Adi Arwan Alimin

Categories: 

Add new comment

CAPTCHA
Pertanyaan ini untuk menguji apakah Anda adalah pengunjung manusia dan untuk mencegah kiriman spam otomatis.
Image CAPTCHA
Enter the characters shown in the image.

News Stories

Polewali. (Sulbarnews.com) Setelah...
Pengamanan PILGUB SULBAR 2017 Mamuju...

PT Sulbarnews dan Tabloid

Untuk Pemasangan Iklan Banner. Telp : 2325139 - SMS : 081398181002. email : info@sulbarnews.com

left